(+62) 856-4326-0362
wisataedukasi.kasongan@gmail.com

Tempat Pemandian Putri & Permaisuri: Tamansari

Jika ditinjau secara historis Jogja merupakan salah satu kota yang menjadi saksi perjuangan kemerdekaan, bahkan terdapat sebuah cerita panjang dibalik sematan Kota Istimewa. Oleh karenanya, jika sobat traveler berkunjung ke Jogja tak heran banyak bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh, tak hanya itu. Bangunan-bangunan tersebut juga terawat dan menjadi salah satu daya tarik wisatawan.

Siapa yang tak kenal dengan Malioboro? Yaa benar saja, Malioboro menjadi salah satu pusat sentra belanja oleh-oleh di Jogja. Namun seperti yang sudah kita bahas di artikel sebelumnya, banyak destinasi wisata yang bisa menjadi opsi di sekitar kawasan Malioboro. Kalau sobat traveler ingin berjalan terus menuju arah keraton, sobat akan sampai atau melewati titik nol kilometer yang cantik dan menawan, seakan memiliki daya magis tersenyu titik nol kilometer selalu ramai di singgahi pengunjung. Pemeran Kota Jogja memang sengaja mendesain kawasan titik nol dengan begitu epik, sehingga pengunjung dapat menikmati kawasan titik nol km baik di pagi, siang, maupun sore hari. Di kawasan titik nol kilometer ini juga berderet wisata bersejarah lain seperti gedung istana kepresidenan, museum benteng vreden burg, monumen umum serangan satu maret, monumen batik, dll.

Nahh jika anda terus menyusuri jalan ke arah alun-alun kidul maka anda akan sampai di daerah Ngasem atau pasar Ngasem. Pasar Ngasem bersebalahan dengan salah satu wisata bersejarah yang tak kunjung sepi dari pengunjung, apalagi kalau bukan Kampung WisataTaman Sari. Yaa seperti namanya, jika diartikan secara bahasa Taman Sari berarti Taman yang indah. Disini selain melihat bangunan kuno, sobat traveler akan menjumpai beberapa kolam, yang dulu menjadi tempat pemandian para putri raja. Setidaknya terdapat tiga kolam yang sampai saat ini masih dioperasikan sebagai bagian dari objek wisata, dua kolam di tengah bangunan dan satu kolam di sisi bagian kiri.

Tahukah kamu, menurut penuturan seorang guide yang memandu saya, terdapat sebuah kolam yang pada zaman dahulu difungsikan oleh raja untuk mengundi para permaisuri dan selir yang akan menemani Raja, karena pada waktu ity Raja memiliki banyak selir. Caranya yakni dengan mengumpulkan para selir di satu kolam tertentu dan kemudian Raja menjatuhkan bunga, barang siapa yang terkenai oleh bunga tersebut maka dialah yang akan menemani dan melayani Raja. Selain kolam, disini sobat traveler juga dapat menemui ranjang khas yang dulu digunakan oleh Raja di kamar tidurnya, yang unik ketika masuk anda harus sedikit menunduk karena tinggi pintu yang sengaja didesain pendek.

Ahaa, selain pemandian para putri raja berdasarkan beberapa informasi Taman Sari juga dijadikan sebagai benteng pertahanan terakhir dari musuh. Bangunannya yang dibuat sedemikian tinggi dan kokoh memang mencitrakan ihwal demikian. Fyi, Kampung Wisata Taman Sari ini memiliki luas lebih dari 10 hektar.

Disini sobat traveler juga dapat menemui fakta sejarah tentang prilaku keagamaan kelurga Kerajaan pada waktu itu, fakta sejarah tersebut dapat kamu lihat di Sumur Gumuling atau yang biasa dikenal dengan sebutan tangga lima. Sobat traveler mesti bertanya-tanya, apa arti dari tangga lima tersebut? Tentu tangga lima tak terlepas dari makna yang filosofis. Uniknya, untuk menjangkau area ini dulu para raja hanya dapat mengaksesnya lewat terowongan bawah tanah saja, konon katanya untuk menuju kesini para raja harus menggunakan perahu karena terowongan bawah tanah tersebut berisi air. Pada waktu itu sumur gumuling dijadikan sebagai masjid dan di bawah tangga lima dahulu terdapat sebuah kolam air yang menjadi fasilitas untuk mengambil wudhu. Ada pula sebuah ceruk yang mana dahulu dijadikan sebagai tempat imam.

Setelah puas berjalan dan mengelilingi Kawasan Wisata Taman Sari ini sobat traveler dapat menikmati dawet sehat yang legi dan kental, dawet ini berbeda dari dawet-dawet lainnya. Mengapa? Karena bahan bakunya yang premium. Jika biasanya dawet dicampur dengan santan maka disini dawet juga dicampur dengan susu uht murni, alhasil dawet menjadi lebih gurih. Selain itu tepung beras yang digunakan disini juga berkualitas super, sehingga tekstur dawet sendiri menjadi lebih kenyal. Dan anda hanya perlu menyuguhkan uang sebesar 10 ribu rupiah saja untuk meniknmati dawet khas Tanah Sari ini.

Selamat berlibur dan berkunjung ke Jogja Istimewa

Respond For " Tempat Pemandian Putri & Permaisuri: Tamansari "

thirteen + sixteen =

WhatsApp HUBUNGI KAMI