(+62) 856-4326-0362
wisataedukasi.kasongan@gmail.com

Jamu Tradisional Bu Nik; Kuliner Lawas Jogja

Siapa yang tak kenal dengan jamu? Mulai dari kalangan tua, muda, hingga anak-anak semua pasti pernah mengkonsumsinya. Meskipun rasanya terkenal pahit, namun bukan berarti tidak ada yang manis. Dan kata orang tua rasanya tak sebanding dengan manfaat yang didapat. Bagi orang tua zaman dahulu jamu adalah salah satu kunci hidup sehat, maka dari itu ia amat digandrungi dan dicari-cari. Mereka percaya bahwa khasiat jamu sangat baik bagi tubuh, sebut saja contohnya yakni dahulu orang babaran / pasca melahirkan disarankan meminum jamu agar dapat memproduksi ASI yang banyak, selain itu para wanita yang ingin memiliki tubuh singset dan aroma tubuh yang harum juga disarankan untuk mengonsumsi jamu. Tak hanya itu, saya ingat sekali ketika masih berusia 5 tahun saya pernah diajak ke tukang jamu untuk dicekoki, alih-alih minum vitamin penambah nafsu makan ibu saya lebih percaya pada kemanjuran jamu. Ketika itu saya dipaksa untuk membuka mulut dan dimasukkan perasan jamu yang begitu pahit, meskipun sampai saat ini saya tidak tahu terbuat dari racikan apa jamu tersebut. Dan benar saja, pasca itu nafsu makan saya menjadi bertambah (entah karena ihwal si jamu atau karena pilihan makanan yang lezat).

Tak dapat dielakkan bahwa perkembangan zaman mulai mengikis kebiasaan mengonsumsi jamu, belakangan banyak diantara konsumen yang berpindah ke lain hati, sebut saja mereka yang sekarang lebih memilih obat-obatan generik atau multivitamin siap minum (it’s okay sih, everything choose by your self). Namun bagi mereka yang masih tetap ingin mempertahankan tradisi lama, mereka tetap setia pada jamu – jamu yang diracik secara tradisional. Nahh, karena peminatnya yang mulai berkurang dan minimnya sumber daya yang dapat mengolah jamu secara tradisional akhirnya hal ini turut berdampak pada produsen jamu. Saat ini sulit sekali menemukan bakul jamu tradisional yang bahannya diracik manual dengan kualitas non abal-abal. Kalaupun ada sangat sedikit sekali jumlahnya. Bagi para food traveler, tentu berburu kuliner lawas ini menjadi sesuatu yang menantang. Setelah keliling-keliling kota Jogja akhirnya saya menemukan bakul jamu yang sesuai dengan kriteria pencarian saya.

Penasaran?…. let’s check it out

Pertama, adalah bakul jamu yang berada di kawasan Jl. Wates, Jamu Tradisional Bu Nik namanya. Depot ini tepat berada di depan warung Soto Kadipiro dan baru beroperasi selepas maghrib atau setelah warung Soto tersebut tutup. Bu nik yang merupakan penjual jamu tradisional tersebut mengatakan bahwa dirinya sudah berjualan lebih kurang selama 20 tahun (selama itu sobat :D), maka saya tak heran melihat jari jemari Bu Nik yang menguning lantaran telah begitu akrab dengan kunyit dan kawan-kawannya. Menurut penilaian saya rasa jamu di depot ini uenakkk pisan. Kalau dari angka 1-10, saya memberi angka 9/10 (ga nanggung-nanggung deh). Why? Karena menurutku ini worth it banget. Waktu itu aku memesan segelas jamu kunir asem, yang ternyata hanya dibanderol seharga 4K saja, murah sekali bukan?.. dan akhirnya saya sekaligus memesan jamu jenis yang sama dengan ukuran botol besar (kira-kira seukuran botol sirup marjan), untuk ukuran tersebut harganya juga terbilang murah hanya 15K saja, menurut Bu Nik jamu untuk ukuran botol tersebut setara dengan 4 gelas (seperti yang saya minum sebelumnya). Ahaaa, untuk rasa jamu kunir asem yang saya pesan ini terbilang segar sekali dan wangi. Dalam proses pembuatannya saya melihat Bu Nik membubuhkan perasan jeruk nipis dan madu, oleh karenya jamu buatan Bu Nik sama sekali tidak pahit. Emmm, selain itu menurut saya Bu Nik menggunakan gula/pemanis asli untuk campuran jamunya. Fyi, beberapa kali saya membeli jamu yang rasa manisnya begitu pekat hingga terasa tertinggal di tenggorokan. Ohya, menurut penuturan Bu Nik biasanya ia libur pada hari senin / malam selasa. Rumah Bu Nik sebenarnya tidak jauh dari lokasi ia berjualan, bagi anda yang ingin memesan ramuan jamu khusus Bu Nik juga dapat melayani.

The last but not the least, bagi anda yang ingin merasakan nikmatnya jamu racikan Bu Nik ini silahkan datang setelah maghrib yaa, agar tidak kecelik seperti saya 😀 . Bu Nik berjualan dengan gerobak mungil yang dihiasi banner bertuliskan Jamu Tradisional Bu Nik dengan dominasi warna kuning dan hijau.

(By the way, masih ada beberapa depot jamu lain yang recommended, kapan-kapan kita bahas lagi di episode berikutnya yakkk)

Selamat mencoba sobat kuliner…….

Respond For " Jamu Tradisional Bu Nik; Kuliner Lawas Jogja "

two × 3 =

WhatsApp HUBUNGI KAMI